Suku Hui: Etnis Muslim Berbahasa China

Tak banyak orang tahu etnis Hui yang merupakan salah satu dari 55 etnis minoritas di Republik Rakyat Cina (RRC) yang telah mengamalkan Islam sejak 14 abad yang lalu, sejak Islam lahir di Arabia.

Dari 55 etnis minoritas yang diakui oleh pemerintah Cina, sepuluh diantaranya dikenal sebagai etnis muslim. Khusus etnis Hui, lebih mengemuka daripada kesembilan etnis lainnya karena beberapa alasan.

Berbeda dengan etnis muslim lainnya yang menjadikan Cina sebagai Bahasa kedua, etnis Hui sebaliknya berbahasa Cina dengan dialek lokal. Selain itu, etnis muslim lainnya terkonsentrasi di wilayah tertentu, sedangkan etnis Hui menye­bar di seluruh Cina. Walhasil, etnis Hui berbagi kebudayaan yang sama dengan etnis mayoritas Han. Tulisan ini penting untuk memper­lihatkan bagaimana Islam telah di­prak­tekkan selama berabad-abad secara harmonis dengan kebu­dayaan Cina.

Sejak tahun 1949, pemerintah telah mengelompokkan minoritas berdasarkan kebangsaan atau etnis mereka. Enam dari 9 etnis minoritas yakni Uighur, Kazakh, Kyrgiz, Uzbek, Tatar dan Tajik, mayoritas tinggal di Xinjiang wilayah otonom yang juga dikenal dengan Turkistan Timur (Dillon, 1996, p.4). Mereka semua berbicara sebentuk Bahasa Turki, kecuali etnis Tajik yang berbahasa Persia (Dillon, 1996, p.4). Tiga etnis sisanya yakni Salar, Boa’an dan Dongxiang tinggal di wilayah lain. Etnis Salar adalah minoritas berbahasa Turki lainnya yang tinggal di perbatasan provinsi Gansu dan Qinghai (Dillon, 1996, p.4). Mereka memiliki nenek moyang orang-orang yang bermigrasi dari wilayah Sa­mar­kand saat dinasti Ming ber­kuasa (1368-1644). Etnis Boa’an tinggal di barat daya provinsi Gansu, sementara Dongxiang menetap di sebelah barat provinsi Gansu. Asal usul keduanya berasal dari tentara Asia yang diutus di era kekuasaan dinasti Yuan (1271-1368). Bahasa Boa’an dan Dongxiang sendiri ber­asal dari famili Bahasa Mongol, mes­kipun berbeda satu dengan lainnya (Dillon, 1996, p.4).

Makna “Hui”

Hui dalam aksara Cina terdiri dari dua kotak yang secara harfiah berarti “kembali”. Menurut pendapat ilmuan muslim Cina, “Kotak terluar berarti universalitas Islam, sedangkan kotak di dalamnya merujuk pada Ka’bah” (Cahuh, 2004, p.156). Beberapa ilmuan muslim Cina menambahkan. “Agama orang-orang Hui adalah agama yang kembali kepada Alloh,” (Cahuh, 2004, p.156).

Kata ‘Hui’ dipakai untuk meng­gambarkan semua muslim di Cina sebelum RRC lahir, di tahun 1949, meskipun ada berbagai bangsa yang mengamalkan Islam saat kekaisaran Cina, termasuk berbagai macam etnis Turki, Persia dan Arab. Orang-orang muslim yang dikenal sebagai ‘Hui’ tersebar luas sejak dinasti Yuan (1368-1644), yang dikuasai oleng orang-orang Mongol. Sete­lah kekaisaran Cina berakhir, pe­merintah komunis menyebut orang-orang Hui sebagai orang “yang tak memiliki Bahasa sendiri tapi berbicara dengan dialek-dialek masyarakat di mana mereka hidup” (Gladney, 1996. P.20). Hari ini, orang-orang Hui dikenal sebagai Cina Muslim.

Perkembangan Islam di Cina

Menariknya, kemunculan Islam di Cina di mulai abad ke-7 pada masa dinasti Tang (618-907), seiring lahirnya Islam di Arabia pada tahun 610 M. Para pedagang Arab dan Persia, tentara-tentara dan tokoh-tokoh Sufi berperan penting dalam menyebarkan Islam di Asia. Para pedagang Persia dan Arab pertama tinggal di pantai tenggara Cina, Kanton (Guangzhou), Xia­men, Quangzhou, Yangzhou dan beberapa diantara mereka meni­kahi warga setempat. Akan tetapi, ini adalah komunitas muslim dalam jumlah kecil, dan tidak menarik perhatian penguasa Tang dan Song (618-1279M) (Gladney, 1996, p.17)

Dinasti Yuan (1386-1644) adalah tonggak penyebaran Islam di Cina karena penguasa Mongol telah memaksa umat Islam di Asia Tengah dan Asia Barat berpindah ke Cina. Pasukan Genghis Khan dan penerusnya telah menguasai pusat-pusat Islam, termasuk Bukhara dan Samarkand, dan membawa para pandai besi dan ahli bangunan berbakat, serta memperbudak pa­ra wanita dan anak-anak dengan mem­bawa mereka ke Cina” (Dillon, 1996, p.17). Sebagai tambahan, penguasa Mongol membuat strata sosial yang me­nem­patkan pendatang muslim lebih tinggi statusnya daripada warga Cina, tapi tetap lebih rendah dari orang-orang Mongol yang berada di puncak (Gladney, 1996. P.18).

Umat Islam di Cina meyakini bahwa Saad bin Abi Waqosh, paman Nabi , bersama tiga orang sahabat lainnya, adalah muslim pertama di Cina. Terkait pengakuan ini, He Qiaoyuan, ilmuan Cina ada ke-17, berkata, ”Empat orang pengikut Nabi telah sampai di Cina untuk berdakwah saat kaisar Wude dari dinasti Tang berkuasa” (Sen, 2009,p.80). Di saat yang sama, banyak umat muslim Cina yang menziarahi sebuah makam yang dihubungkan dengan Saad bin Abi Waqosh di Kanton (Guangzhou). Hari ini bahkan ada beberapa musmlim Cina yang (mengaku) asal-usulnya keturunan Saad bin Abi Waqosh. Akan tetapi, ilmuan kontemporer mengatakan cerita ini sebagai legenda karena kurangnya bukti-bukti. Mereka berpendapat masuknya Islam di Cina berawal dari utusan yang dikirim oleh Khalifah Utsman bin Affan, pada saat dinasti Tang, tahun 651 (Sen, 2009, p.81)/

Terkait tradisi reliji etnis Hui, mereka mengaku sebagai muslim Sunni yang mengikuti madzhab Hanafi. Ajaran Islam lama (mainstrim) disebut Ge­di­mu dalam Bahasa Cina, yang berarti “Al qodim (lama/terdahulu)” dalam Bahasa Arab. Etnis Hui menyebut imam mereka dengan panggilan ahong, yang berasal dari Bahasa Persia Akhong. Seperti itulah ungkapan harian etnis Hui yang berupa transliterasi dari Bahasa Arab dan Persia. Orang-orang Hui juga memiliki nama-nama Cina sekaligus nama reliji. Mahmud Ma Xiao dan Sharif Wang Yonglian adalah beberapa conton nama yang dipakai oleh etnis Hui. Ada juga beberapa nama-nama yang umum dipakai etnis Hui, “seperti Ma, yang kemungkinan berasal dari huruf pertama dari kata ‘Muham­mad’” (Dillon, 1996, p.50-53)

Dengan berakhirnya re­­vo­lusi budaya di tahun 1976, pe­me­rintah merubah si­kap terhadap kebebasan menga­malkan agama. Faktanya, diban­dingkan etnis muslim lainnya, etnis Hui lebih beruntung karena bisa le­luasa mempraktekkan Is­lam. Masalah-masalah po­litik berbuah pembatasan praktek-praktek Islam ba­gi etnis muslim lainnya. Sebagai contoh, akti­vi­tas politik, budaya dan agama bagi etnis Uighur lebih di­persempit dan diawasi ka­rena diaggap sebagai an­caman nega­ra.

Penyebaran etnis Hui di seluruh negeri manjadi tanda signi­fikan dari inte­grasi orang-orang Hui da­lam semua sen­di kehi­dupan masyarakat Cina. Dalam hasil laporan pemetaan mus­lim global yang dilakukan Pew Research Center (2006), “Ada 20 juta muslim (di RRC), lebih dari 40.000 tempat ibadah (lebih dari separuhnya berada di Xinjiang), dan lebih dari 45.000 imam di seluruh negeri.” Laporan yang sama menyebutkan bahwa orang-orang Hui mendekati separuh muslim di Cina.

Meskipun etnis Hui berbagi budaya yang sama dengan etnis Han, pengamalan agama mereka membedakan dari etnis Han. Sebagai contoh, seperti muslim lainya, mere­ka tidak memakan daging babi dan daging-daging binatang lainnya yang tidak disembelih secara syar’i. Sementara bagi orang-orang Han, saat terdengar kata daging, yang terlintas dalam benak mereka adalah daging babi. Mao Zedong sendiri, yang merupakan pendiri RRC, mengatakan bahwa babi adalah “Harta Karun” orang Cina (Gladney, 1996, p.13). sementara dalam hal pakaian, muslim Hui menggunakan kopiah putih sedangkan muslimah Hui memakai penutup kepala sebagai identitas muslim. Dalam rangka menyelisihi Tahun Baru Imlek dan Panen Raya yang paling umum dirayakan, etnis Hui juga larut dalam perayaan tahunan Lesser Bairam (Idul Fitri) dan Corban (Idul Adha) bersama muslim lain di seluruh dunia.

Diterjemahkan dengan penyesuaian dari artikel yang berjudul “Hui people: Chinese speaking muslim” yang ditulis oleh Osman Ozkan. Artikel ini diunduh dari situs http://www.fountainmagazine.com/Issue/detail/hui-people-march-2014

 

(Visited 98 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *